Trading dan Investasi
ad1
Iklan Gratis
MENGOMPOS SEDERHANA ALA RUMAH TANGGA
Top Bisnis
Agustus 26, 2019
![]() |
| Source: ilmubudidaya.com |
Pernah dengar istilah kompos? Apa yang langsung terbayang dibenak
kalian? Mungkin ‘pertanian’, ‘sawah’, ‘petani’, ‘menanam’, ‘pupuk’ dan berbagai
macam kata yang nggak cocok untuk kita yang hidup di daerah urban, punya lahan
sempit, dan susah menemukan tanah. Pada dasarnya, kompos adalah hasil
penguraian segala sisa organik yang kita hasilkan. Ketika diuraikan dengan
baik, kompos akan berfungsi menyuburkan tanah. Berbeda jika sampah organik itu
hanya dibuang lalu tercampur dengan bahan anorganik, hal itu akan menimbulkan
masalah baru.
Coba bayangkan, saat kalian mencampur sisa sayur dari kalian dengan
popok bayi, batu baterei, lampu, baju bekas dan mengirimnya ke TPA. Apa yang
akan terjadi? Gunungan berbagai macam barang di TPA yang sangat miskin
oksigen, membuat pembusukan sisa sayur tersebut menghasilkan Gas Metan.
FYI, gas Metan (CH4)
adalah salah satu kontributor bertambah panasnya bumi kita tercinta. Selain
itu, air lindi yang dihasilkan dari TPA sudah pasti mengandung lebih banyak
logam berat. Padahal, kalau kualitasnya baik, air lindi yang matang bisa
dijadikan pupuk cair. Jadi, yuk kita bahas dulu lebih lanjut mengenai komposter
sederhana ala rumah tangga.
Apakah kompos itu?
Kompos adalah hasil penguraian parsial / tidak lengkap dari campuran
bahan-bahan organik yang dapat dipercepat oleh populasi berbagai macam mikroba
dalam kondisi lingkungan yang hangat, lembab, dan aerobik atau anaerobik.
Mengapa kita harus mengompos?
- Sisa konsumsi organik yang tidak diberi perlakuan khusus akan menimbulkan bau tidak sedap, gangguan visual, dan akan menghasilkan air lindi.
- Tidak semua sisa organik yang dibuang melalui petugas kebersihan bisa tertangani, mengompos akan mengurangi dampak keberadaan TPA.
- Suatu kewajiban untuk kita menjaga kesuburan tanah guna terjaganya supply pangan manusia.
Membuat Starter Sederhana
Pembuatan starter atau wadah komposter untuk skala rumah tangga
sangatlah sederhana. Wadahnya sendiri dapat menggunakan barang bekas selama
wadah itu tidak berpengaruh terhadap kualitas kompos yang kita hasilkan, segala
macam bentuk wadah bisa digunakan. Seperti halnya, ember cat, kaleng, pot
bunga, drum besar, serta pipa yang penting sesuai dengan skema di bawah ini.
Cara Kerja Komposter
- Biarkan starter tertutup selama 4 hari agar matang. Tanda kematangannya, air hangat, berembun pada tutup, sisa organik hijau mulai menghitam.
- Selanjutnya isi komposter dengan sampah organik setiap hari dan aduk. Perhatikan keadaan isi komposter, jika kering tambahkan bio aktivator, jika becek tambahkan organik cokelat.
Keterangan
tambahan:
*Bahan
organik hijau adalah bahan yang masih segar/kaya nitrogen contoh. kulit pepaya,
tangkai bayam, kulit wortel
*Bahan
organik coklat adalah bahan yang sudah kering/kaya karbon contoh. daun kering,
jerami, kertas
Panen
Jika komposter sudah penuh biarkan tidak diisi selama 1-2 minggu.
Setelah itu, pindahkan ke tempat terbuka dan angin-anginkan.
Udah kelihatan kan kalau mengompos itu gampang? Selamat Mengompos!
Sumber:
-
Okta Z./ storyforel.blogspot.com/
-
Zerowaste.id



Tidak ada komentar :
Posting Komentar
Leave A Comment...