Trading dan Investasi
ad1
Iklan Gratis
CAFE NIGHT CAMPAIGN: PEMANASAN GLOBAL, PERUBAHAN IKLIM, FOOD WASTE DAN #BeliYangBaik
Top Bisnis
Maret 07, 2018
Hai, SobatEH! Sabtu (17/02/2018),
Earth Hour Malang telah mengadakan Aksi #CafeNightCampaign di beberapa kafe dan
resto di Malang, yaitu C2C, Cokelat Klasik, Bukit Delight, dan Kedai Pak Cik
Abin. Aksi #CafeNightCampaign kali ini terdiri dari dua Aksi yang menarik yaitu
talk show dan Aksi Table to Table.
Pemanasan global, perubahan iklim dan tanaman kopi.
Talk show yang dilakukan pada
main café yaitu C2C ini membahas tentang dampak pemanasan global dan perubahan
iklim terhadap produksi dan kualitas kopi yang dihasilkan, serta manfaat kopi
sebagai pupuk. Narasumber pada talkshow kali ini adalah Pak Sivaraja sebagai
pemilik dari Amstirdam Coffee, Pak Gito sebagai petani kopi di Karangploso,
Malang dan Kak Rere sebagai perwakilan dari Komunitas Zona Bening.
Perubahan iklim merupakan dampak
dari pemanasan global. pemanasan global dapat terjadi karena berlebihnya gas
rumah kaca pada atmosfer bumi. Gas rumah kaca meningkat dapat terjadi secara
alami dan dapat pula disebabkan oleh aktivitas manusia. Contoh timbulnya gas
rumah kaca disebabkan oleh aktivitas manusia yaitu pembukaan lahan dan
pembakaran bahan bakar fosil. pemanasan global dari alam dapat disebabkan oleh
beberapa hal, misalnya kebakaran hutan dan letusan gunung api. Jenis-jenis dari
gas rumah kaca yang utama di atmosfer bumi adalah CO2 (Karbon
dioksida),CH4(Metan) dan N2O (Nitrous Oksida), HFCs (Hydrofluorocarbons), PFCs
(Perfluorocarbons) dan SF6 (Sulphur hexafluoride).
Pemanasan global dan perubahan
iklim berdampak pada kelangsungan hidup tanaman, salah satunya adalah kopi.
Kopi merupakan tanaman yang tumbuh di daerah yang memiliki cuaca tidak boleh
terlalu panas atau dingin dan tidak boleh terlalu kering atau basah. Adanya
pemanasan global dan perubahan iklim mengakibatkan siklus pertumbuhan dari
tanaman kopi pun terganggu. Contohnya adalah tanaman kopi jenis Arabika
biasanya ditanam pada pegunungan yang beriklim dingin. Namun dengan adanya
pemanasaan global, saat ini cuaca di pegunungan menjadi hangat dan mempengaruhi
pertumbuhan dari kopi Arabika.
Akibat perubahan iklim, lahan tanam
tumbuhan kopi Arabika berkurang sebanyak 50%. Di Amerika Selatan dan Afrika,
tanaman kopi terserang penyakit jamur daun kopi. Penyakit tersebut merupakan
ditimbulkan oleh peningkatan suhu dan curah hujan karena perubahan iklim di
bumi. Penyakit daun kopi (La Rolla) telah menyebabkan kerugian pada petani kopi
di Negara Peru sebesar 40%.
Ampas kopi ternyata masih dapat dimanfaatkan!
Tanaman kopi yang biasa SobatEH
nikmati dalam wujud minuman hangat ternyata memiliki manfaat lain, yaitu
sebagai pupuk. Loh kok bisa? Bisa dong! Limbah kopi atau biasa SobatEH kenal
dengan sebutan ampas kopi yang setelah SobatEH minum langsung dibuang itu
sebenernya bisa dimanfaatkan sebagai pupuk. Hal ini karena ampas kopi dapat
meningkatkan kadar air dan aerasi di dalam tanah. Pupuk kopi adalah sumber
fosfor dan potassium yang baik bagi tanah karena pupuk kopi dapat dikatakan
sebagai pupuk organik. Pupuk kopi cocok untuk dimanfaatkan pada tanaman kacang
panjang, cabai, dan tomat. Ampas kopi sendiri juga dapat SobatEH manfaatkan
sebagai pestisida alami loh, karena dapat mencegah semut dan siput yang akan
merusak tanaman.
SobatEH yang ingin memanfaatkan
ampas kopi sebagai pupukpada tanaman? caranya mudah loh. Hal yang SobatEH perlu
lakukan adalah mengeringkan ampas kopi
terlebih dahulu. Setelah kering, ampas kopi ditaburkan pada tanah disekitar
tanaman dan SobatEH tinggal menunggu sambal menikmati secangkir kopi hangat. Di
tanah, ampas kopi tersebut akan diubah menjadi bahan mineral oleh cacing
sehingga dapat dimanfaatkan oleh tanah dan akan berdampak baik pada tumbuhan.SobatEH
yang ingin memanfaatkan ampas kopi sebagai pupuk pada tanaman caranya mudah.
Jadi yang SobatEH perlu lakukan adalah ampas kopi dikeringkan, setelah kering
ampas kopi ditaburkan pada tanah disekitar tanaman dan SobatEH tinggal menunggu
sambal menikmati secangkir kopi hangat. Di tanah ampas kopi tersebut akan
diubah menjadi bahan mineral oleh cacing sehingga dapat dimanfaatkan oleh tanah
dan akan berdampak baik pada tumbuhan.
Serunya Kampanye Table to Table!
Kampanye table to table pada aksi
cafe night campaign ini dilakukan di beberapa cafe dan resto seperti Bukit
Delight, Cokelat Klasik, dan Kedai Pak Cik Abin. Kampanye ini dilakukan dengan
mendatangi pengujung setiap meja dan mengampanyekan tentang #Foodwaste dan
#BeliYangBaik. Selain menyampaikan materi, dilakukan juga games menyusun kartu
urutan distribusi makanan dari petani hingga ke konsumen. Aksi ini bertujuan
untuk menginformasikan dan mengajak masyarakat untuk membantu mengurangi sampah
dengan meminimalisir atau tidak melakukan Foodwaste, serta mulai membiasakan
diri untuk membeli produk – produk yang ramah lingkungan.
Kenapa Food waste harus dicegah?
Limbah makanan atau food waste
dapat berdampak pada pemanasan global yang menjadi penyebab dari perubahan
iklim. Korelasi antara limbah makanan dengan perubahan iklim dilihat dari jejak
karbon. Berdasarkan dari penelitian, 1,3 milyar ton limbah per tahun setara
dengan 3,3 giga ton CO2. Maka dari itu dapat dikatakan limbah makanan juga
merupakan penyebab dari pemanasan global. Limbah makanan sendiri dihasilkan
dari proses produksi hingga konsumsi.
Limbah makanan dapat SobatEH kurangi dengan menyimpan makanan pada tempat yang baik agar makanan tidak cepat kadaluarsa, menyimpan makanan di kulkas sehingga SobatEH dapat memakan di lain waktu, menyumbangkan makanan yang berlebih dan belanja dan memasak makanan seperlunya.
Kenapa #BeliYangBaik?
Apakah SobatEH menyadari terdapat
kata “jejak karbon” pada paragraf sebelumnya? Nah, apa itu “jejak karbon”?
Jejak karbon adalah aktivitas manusia yang menghasilkan emisi dari gas rumah
kaca. Jejak karbon ada dua macamnya, primary carbon footprint dan secondary
carbon footprint. Produk – produk yang SobatEH konsumsi masuknya kedalam
kategori secondary carbon footprint. Dengan mengetahui jejak karbon, SobatEH
jadi tau seberapa besar dampak dari apa yang SobatEH konsumsi terhadap
lingkungan sekitar.
Itu lah mengapa dikatakan bahwa
apa yang SobatEH beli adalah apa yang SobatEH dukung, karena apapun produk yang
SobatEH konsumsi memiliki jejak karbonnya. Sebanyak 68% dari jejak karbon
berasal dari produk – produk rumah tangga dari mandi, mencuci, memasak hingga
tahapan membuang kemasan. Jejak karbon pada produk – produk terdapat dari
tahapan penyediaan bahan baku, pengiriman, pengolahan, pengemasan, hingga
tahapan konsumsi.
Jadi, yuk SobatEH bantu
meringankan beban bumi kita dengan tidak melakukan Food waste dan menerapkan
#BeliYangBaik dalam kehidupan sehari-hari, karena peningkatan suhu 1 derajat
bumi bukan lah perkara sederhana. Mulai dari hari ini, untuk lingkungan sekitar
yang lebih baik lagi.
Sumber:






Tidak ada komentar :
Posting Komentar
Leave A Comment...