Trading dan Investasi

ad1

Iklan Gratis

Tentang Fenomena Pengasaman Air Laut

Tentang Fenomena Pengasaman Air Laut



Topoin.com - Fenomena pengasaman air laut atau bisa juga disebut Ocean Acidification merupakan fenomena menurunnya kadar Power of Hydrogen (pH) air laut yang disebabkan pemanasan global. Dalam fenomena pengasaman air laut, pH air laut bergeser dari netral menjadi asam dikarenakan adanya reaksi antara air laut dengan karbon dioksida berlebihan di atmosfer yang dipicu oleh aktivitas manusia, seperti penggunaan bahan bakar fosil dan emisi gas rumah kaca lainnya. Karbon dioksida yang berada di atmosfer bereaksi dengan air laut sehingga menghasilkan asam karbonat dan menurunkan pH air laut menjadi asam. Konsentrasi ion karbonat akan berubah dan mempengaruhi proses hewan laut yang membuat kerangka kalsium karbonat. Hal tersebut semakin buruk dengan adanya perubahan iklim, polusi, pembangunan di daerah pesisir, penangkapan ikan dalam jumlah besar, dan penggunaan pupuk kimia yang terbawa hingga laut.

Akibat dari pengasaman air laut banyak terumbu karang yang mati di wilayah Australia, khususnya di kawasan terbesar di dunia, Great Barrier Reef Australia. Contoh rusaknya terumbu karang terjadi di perairan hangat Australia yang disebabkan oleh pemanasan iklim dan pengasaman air laut. Dampak dari pemanasan iklim dan pengasaman air laut ini akan berdampak lebih fatal lagi jika tidak mengurangi emisi gas rumah kaca. Sedangkan, emisi gas rumah kaca sendiri lebih besar dibandingkan dengan usaha manusia untuk mengurangi emisi gas rumah kaca. 

   

Selain itu, dewasa ini semakin banyak penelitian yang membuktikan ragam dampak negatif dari pengasaman air laut terhadap organisme laut itu sendiri. Beberapa diantaranya ialah berkurangnya tingkat pertumbuhan terumbu karang, juga berkurangnya kemampuan Zooplankton yang berenang bebas dalam pembentukan cangkang pelindung, mengurangi laju produksi kalsium karbonat dalam alga laut, mengurangi spesies laut larva, terganggunya tahap perkembangan invertebrata, serta mengancam kepunahan spesies-spesies bintang laut.  Apabila terjadi kerusakan pada satu tingkatan ekosistem tertentu, besar kemungkinan akan mengganggu kebutuhan tingkatan lain dalam ekosistem tersebut. Kemudian, dampak lebih luasnya lagi, manusia akan merasakan menipisnya stok-stok ikan di laut, terutama masyarakat yang menggantungkan hidupnya dari hasil laut seperti nelayan.            

Banyak hal yang bisa dilakukan untuk mengatasi pengasaman air laut. Salah satunya adalah mengurangi emisi gas rumah kaca, mengurangi penggunaan bahan bakar fosil, mengurangi polusi di pantai, tidak melakukan penangkapan besar-besaran pada spesies penting dan kelompok fungsional, serta mengurangi sumber pencemaran berbasis lahan. Kunci dari mengatasi pengasaman air laut adalah dengan memperkuat undang-undang lingkungan yang ada untuk membatasi limpasan dan polutan terkait.

Setelah mengetahui sedikit tentang pengasaman air laut, diharapkan masyarakat lebih peduli terhadap kelangsungan ekosistem laut, meskipun dampak nyatanya belum terasa akan tetapi jika dibiarkan terus menerus dalam jangka waktu yang lama akan sangat merugikan manusia. Hal-hal yang terlihat sepele seperti mengurangi penggunaan bahan bakar fosil jika dilakukan secara serempak dan berkelanjutan tentunya memiliki dampak yang positif terhadap ekosistem laut. Sebab pada dasarnya, apa yang kita tanam hari ini adalah yang akan kita nikmati di kemudian hari.

 


BAGAIMANA STATUS ENERGI TERBARUKAN DI INDONESIA

BAGAIMANA STATUS ENERGI TERBARUKAN DI INDONESIA


Sumber: kompas.com
Piool.com - Indonesia kaya dengan potensi energi terbarukan, antara lain energi matahari, energi angin, biomassa, energi laut, panas bumi, yang belum dieksploitasi secara optimal. Potensi energi terbarukan untuk dikonversi menjadi listrik mencapai 422 – 500 GW, atau 7-8 kali dari total kapasitas pembangkit terpasang saat ini. Dari potensi ini baru sekitar 2% yang dimanfaatkan secara komersial. Energi matahari memiliki potensi lebih dari 200-280 GW dengan efisiensi teknologi photovoltaic saat ini tetapi pemanfaatannya kurang dari 100 MW. Dibandingkan dengan negara-negara tetangga, pemanfaatan energi matahari Indonesia sangat jauh tertinggal. Laporan ini merupakan laporan tahunan yang dikeluarkan IESR yang dimaksudkan sebagai sumber informasi bagi publik sekaligus alat pemantauan perkembangan energi bersih di Indonesia. Dengan laporan ini, diharapkan publik memiliki sumber informasi yang kredibel dan dapat terlibat aktif mendorong reformasi kebijakan, pengembangan instrumen pendukung, dan penguatan kelembagaan untuk meningkatkan pembangunan energi bersih di Indonesia.

Selama satu dekade terakhir pembangkit listrik berbahan bakar fosil masih mendominasi penyediaan tenaga listrik di Indonesia. Energi fosil mencapai 86,58% dari total pasokan listrik, terdiri dari porsi batubara mencapai 60%, dan diikuti oleh sumber bahan bakar fosil lain seperti minyak dan gas bumi. PLN mencatat bauran energi baru terbarukan (EBT) untuk pembangkitan hingga Mei 2019 telah mencapai 13,42% dengan porsi terbesar berada pada energi air. Lebih terperinci, hingga Mei 2019, persentase pembangkit listrik tenaga air (PLTA) yang beroperasi mencapai 7,61%. Selanjutnya, secara berturut-turut, porsi pembangkit listrik tenaga panas bumi (PLTP) mencapai 4,95%, pembangkit listrik tenaga diesel 0,59%, serta EBT lainnya seperti surya, angin, dan biomassa 0,27 persen. 



Jawa Barat merupakan provinsi dengan kapasitas terpasang pembangkit listrik berbasis energi terbarukan yang terbesar pada tahun 2017, dengan total kapasitas 3.240 MW terdiri dari 61% PLTA & 36% PLTP, diikuti oleh Sumatera Utara dengan kapasitas 1.153 MW berasal dari 84% PLTA, dan Sulawesi Selatan dengan kapasitas 574 MW berasal dari 91% PLTA. Total kapasitas terpasang di provinsi-provinsi tersebut mencakup 55% dari total kapasitas nasional. Provinsi-provinsi seperti Kalimantan Barat, Kalimantan Tengah, Nusa Tenggara Barat, Papua, dan Sulawesi Selatan memiliki potensi energi terbarukan yang cukup besar yang mencapai lebih dari 20 GW. Pemanfaatan energi terbarukan setempat untuk pembangkitan listrik dapat menjadi solusi untuk daerah terpencil atau perdesaan karena tidak memerlukan pasokan bahan bakar yang terus menerus seperti pembangkit yang berbasis fosil sehingga biaya produksi tenaga listrik menjadi lebih murah.


Sumber: liputan6.com

Dalam jangka menengah, PLTA masih akan menjadi target bauran energi terbesar pada Rencana Usaha Penyediaan Tenaga Listrik (RUPTL) 2019—2028. Pada RUPTL PLN 2019- 2028, ditargetkan ada penambahan kapasitas pembangkit EBT sebesar 16,76 gigawatt (GW). Dari rencana penambahan tersebut, PLTA mendominasi dengan porsi 48 persen. Posisi kedua ditempati PLTP sebesar 27 persen. Sisanya, pembangkit listrik tenaga mikrohidro (PLTM) 9 persen, pembangkit listrik tenaga surya (PLTS) 6 persen, pembangkit listrik tenaga bayu (PLTB) 5 persen, pembangkit listrik tenaga sampah (PLTSa) 5 persen, dan pembangkit listrik tenaga arus laut (PLTAL) 0,04 persen. Yuk, kita kawal dan dukung terus usaha pemerintah dalam meningkatkan produksi energi hijau untuk kita dan lingkungan di masa depan!

Sumber:
iesr.or.id
ekonomi.bisnis.com


SEJUTA MANFAAT MENGOLAH SAMPAH ORGANIK MENJADI ECO ENZYME

SEJUTA MANFAAT MENGOLAH SAMPAH ORGANIK MENJADI ECO ENZYME



Apa Itu Eco Enzyme?

Eco enzyme / eco enzim (EE) atau nama lainnya Garbage Enzymes adalah cairan yang didapat dari fermentasi sampah dapur yang dapat digunakan untuk berbagai keperluan dan juga dapat mengurangi global warming, lho. Eco Enzyme ini pertama kali diperkenalkan oleh Dr. Rosukon Poompanvong yang merupakan founder Asosiasi Pertanian Organik Thailand. Dr. Rosukon telah melakukan penelitian tentang mengolah enzim dari sampah organik selama lebih dari 30 tahun dan dia mendorong orang untuk membuat eco enzyme di rumah dalam rangka mengurangi global warming.


Bagaimana Eco Enzyme Dapat Mengurangi Global Warming?
  1. Pada proses pembuatan, akan melepaskan gas ozon (03) yang dapat mengurangi karbondioksida (CO2) di atmosfer yang akan mengikat panas di awan sehingga akan mengurangi efek rumah kaca dan global warming.
  2. Enzim mengubah amonia menjadi nitrat (NO3), hormon alami dan nutrisi untuk tanaman.
  3. Mengubah CO2 menjadi karbonat (CO3) yang bermanfaat bagi tanaman laut dan kehidupan laut.



Apa Saja Manfaatnya?

Eco Enzyme dapat digunakan untuk keperluan sehari-hari dengan mencampurkan ecoenzym dengan takaran tertentu. Berikut takaran pemakaian menggunakan perbandingan antara larutan ecoenzym dengan air (ml) :
  • Mencuci piring, peralatan dapur berminyak 1:10-50
  • Penyegar udara ruangan 1:200
  • Menyiram tanaman 1:500
  • Disinfektan 1:500
  • Mengepel lantai dengan perbandingan 1:1.000.
  • Mencuci baju (mesin cuci) konsentrat (tidak perlu dicairkan dengan air lagi, langsung dimasukkan ke mesin cuci saja)


Sumber: www.enzymesos.com


Bagaimana Cara Membuatnya?
  1. Siapkan sampah organik seperti kulit buah, sayur, kemudian gula merah dan air.
  2. Buat  perbandingan 1 : 3 : 10 contohnya 100 gr gula merah : 300gr kulit buah : 1000 ml air.
  3. Tuang semua bahan ke dalam botol, bisa juga menggunakan blender untuk mencacah limbah, kemudian campur gula dan air dalam botol.
  4. Simpan di tempat sejuk dan biarkan selama 3 bulan
  5. Gunakan cairannya untuk berbagai keperluan, dan manfaatkan residunya sebagai pupuk organik.

Banyak sekali bukan manfaat dari mengolah sampah organik menjadi sesuatu yang bermanfaat seperti eco enzyme. Selain memiliki manfaat ekonomis karena dapat digunakan untuk berbagai keperluan, eco enzyme juga bermanfaat bagi lingkungan karena dapat mengurangi sampah organik dan dapat mengurangi pemanasan global. Jadi, yuk manfaatkan sampah organik di dapurmu dan olah menjadi eco enzyme!

Ternyata Nelayan Adalah Pahlawan Gizi Indonesia

Ternyata Nelayan Adalah Pahlawan Gizi Indonesia


      Topbisnisonline.com - Indonesia sejak lama dikenal sebagai negara maritim karena sebagian wilayahnya berupa perairan. Negara Indonesia juga merupakan negara kepulauan terbesar di dunia dengan jumlah 17.499 pulau di seluruh wilayahnya. Oleh karena itu, profesi nelayan menjadi profesi yang banyak dijalankan orang Indonesia untuk mencukupi kebutuhan. Lalu tahukah kalian seberapa melimpah kekayaan sumber daya ekosistem laut di Indonesia? 

          Dilansir dalam data United Nations Developments Programme (UNDP) kekayaan nilai jasa dan sumber daya laut di Indonesia mencapai $2,5 trilliun per tahun. Nilai kekayaan ini mencakup sector perikanan, pariwisata, terumbu karang, hutan mangrove, dan lain- lain. Didukung dengan pernyataan The State of World Fisheries and Aquaculture (FAO,2018) bahwa Indonesia merupakan negara sebagai penghasil utama perikanan tangkap dan budidaya dunia, mencakup komoditas perikanan seperti udang/ lobster, ikan tuna, cakalang, dan tongkol, serta rumput laut yang banyak diekspor sehingga menambah devisa negara. Oleh karena itu, profesi nelayan merupakan profesi potensial yang berperan penting dalam memajukan perekonomian Indonesia. 

         Peran nelayan di Indonesia tidak hanya berperan penting dalam bidang perekonomian nasional. Namun, disisi lain nelayan merupakan pahlawan gizi Indonesia. Karena, melalui nelayan Indonesia, masyarakat bias menyantap ikan laut dan hasil laut lainnya yang kaya akan gizi terutama protein yang dibutuhkan oleh tubuh. Tidak hanya itu, kandungan gizi dalam ikan laut dapat membuat otak menjadi cerdas jika kita sering mengonsumsinya. Sehingga, nelayan secara tidak langsung juga berperan dalam mencerdaskan masyarakat melalui hasil perikanan yang dilakukannya walaupun nelayan harus mengambil resiko besar dalam menangkap ikan untuk memenuhi kebutuhan protein hewani masyarakat. 

Sumber :


Apa Itu Mikroplastik, Biota, dan Lingkungan?

Apa Itu Mikroplastik, Biota, dan Lingkungan?


Aopok.com - Hampir tiga perempat bagian atau lebih dari 70 persen permukaan bumi adalah kawasan laut. Begitu juga dengan Indonesia merupakan wilayah yang memiliki kawasan perairan dua pertiga dari luas wilayahnya. Tanpa sadar, plastik yang digunakan sebagai pemenuhan kebutuhan manusia, akan berakhir di muara dan kawasan sekitar laut, pecah menjadi bagian paling kecil atau biasa disebut mikroplastik. Dengan kata lain, “mikroplastik” adalah zat plastik yang berukuran sangat kecil, bahkan tak lebih dari beberapa mikron, mulai mengancam kesehatan lingkungan serta biota laut di perairan Indonesia.
Sumber:farming.id

Mikroplastik sendiri berasal dari polimer beserta zat turunannya seperti polystyrene. Selain polimer, zat ini ternyata juga berasal dari kantong plastik yang biasa kita gunakan, yang secara perlahan-lahan hancur tapi tidak terurai. Bila suatu perairan banyak sampah makroplastik, maka akan berpotensi juga tercemar sampah mikroplastik. Untuk proses pemecahan zat plastik ini membutuhkan waktu yang lama dengan adanya perubahan iklim, cuaca, sinar matahari dan dinamika alam lainnya.
Berdasarkan data penelitian dari Kementrian Kelautan Perikanan (KKP) Kawasan yang tercemar laut mikroplastik, rata-rata dekat dengan sebaran konsentrasi permukiman penduduk, terutama di Pulau Jawa. Peneliti Balai Riset dan Observasi Laut KKP juga menemukan pencemaran di Selat Makassar, Selat Bali, Selat Rupat, Taman Nasional Laut (TNL) Taka Bonerate Flores, TNL Bunaken, TNL Bali Barat, dan bahkan Laut Banda. Hasil penelitian KKP juga mendata tingkat cemar mikroplastik di beberapa daerah, seperti Bunaken yaitu mencapai 50 hingga 60 ribu partikel per-kilometer persegi. Laut Sulawesi antara 30 sampai 40 ribu partikel per kilometer persegi, dan Laut Banda sekitar 5 hingga 6 ribu partikel per kilometer persegi.



Hubungan Mikroplastik dengan Biota Perairan
Mikroplastik umum ditemukan di laut, sungai, tanah, dan sering dikonsumsi oleh hewan. Mikroplastik hadir di berbagai macam kelompok yang sangat bervariasi dalam hal ukuran, bentuk, warna, komposisi, massa jenis dan sifat lainnya. Ada banyak hewan laut yang menjadi korban dari limbah akibat rasa acuh manusia. Buruknya, hewan laut juga dikonsumsi manusia. Mikroplastik dapat dikonsumsi secara tidak sengaja oleh spesies tingkat trofik rendah sekaligus dapat berpindah ke spesies tingkat trofik yang lebih tinggi melalui rantai makanan. Mikroplastik yang tertelan oleh organisme akuatik, dapat menyebabkan masalah dalam tubuh organisme, mulai dari penyumbatan pencernaan hingga kematian. Hal ini  disampaikan oleh Pusat Oseanografi, Lembaga Ilmu Penelitian Indonesia (LIPI), penelitian di UNHAS menyebutkan ikan-ikan yang disampling, mengandung mikroplastik.
Jika di dalam perut ikan, mungkin tidak masalah karena jika mengonsumi ikan, perutnya ikan dibuang. Nah, yang jadi masalah adalah racun tersebut masuk ke daging dan darahnya. Mikroplastik bersifat karsinogenik, berbahaya jika terakumulasi manusia. Akan tetapi, LIPI masih menyempurnakan penelitian mengenai pengaruh mikroplastik dalam darah hewan laut. Pusat Penelitian Oseanografi Lembaga Ilmu Pengetahuan Indonesia (P2O LIPI) akan melakukan penelitian lebih lanjut hingga sekarang.
Mikroplastik terbawa ombak, menempel di terumbu karang dan secara langsung membuat karang mati serta ikan mati. Plankton memakan mikroplastik. Lalu, plankton tersebut dimakan ikan kecil yang ternyata juga menelan mikroplastik. Nah, ikan kecil tersebut menjadi mangsa ikan besar yang rupanya juga mengonsumsi mikroplastik. Begitu juga dengan penyu, ikan dan biota lainnya, hewan-hewan tersebut tidak mempunyai kemampuan untuk membedakan makanannya dengan plastik. Akibatnya, saluran pencernaan akan kacau karena usus terisi oleh plastik dan biota perairan terancam mati.



Sebaiknya bijak dalam menggunakan plastik
Mikroplastik berasal dari polutan plastik yang hancur menjadi partikel-partikel kecil dan tersebar di lingkungan sekitar. Tidak menutup kemungkinan bahaya mikroplastik ini menyerang kesehatan Kita dan keluarga. Meski belum banyak ditemukan penelitian yang menjelaskan bahaya mikroplastik terhadap kesehatan manusia secara pasti, tidak ada salahnya jika Kita mengurangi penggunaan plastik. Kita bisa memulainya dengan membatasi penggunaan kemasan makanan dari plastik, atau mengganti kantong belanja Kita dengan tas kain. Hal kecil, tapi bisa bermanfaat besar bagi lingkungan tempat hidup Kita. Dengan Kita mengurangi penggunaan plastik, maka Kita bisa mengurangi jumlah mikroplastik di lingkungan dan menjaga lingkungan Kita tetap sehat.

Literatur :
https://worldoceanreview.com/en/wor-1/pollution/litter/
http://www.oseanografi.lipi.go.id



Bahaya Kebakaran Lahan Gambut, Bagaimana Cara Menanggulanginya?

Bahaya Kebakaran Lahan Gambut, Bagaimana Cara Menanggulanginya?


Doc: Multimedia Earth Hour Malang 2024

 

Piool.com - Lahan gambut menjadi salah satu lahan yang memiliki luasan yang cukup besar di Indonesia. Lahan ini umumnya terdapat di luar Pulau Jawa, seperti Pulau Sumatera dan Kalimantan. Karakteristik lahan gambut sendiri, yaitu memiliki kandungan bahan organik yang tinggi. Lahan gambut yang keberadaannya terletak di hutan alami umumnya dapat menambat gas rumah kaca khususnya gas karbondioksida sehingga lahan ini menyimpan karbon yang besar. Penyimpanan karbon yang besar di lahan gambut ini dapat menurunkan gas rumah kaca yang terdapat di lapisan atmosfer meskipun prosesnya berlangsung dengan lambat sekali. Namun dengan adanya lahan gambut ini setidaknya dapat mengurangi kandungan gas rumah kaca yang terdapat di lapisan atmosfer.

Manfaat baik dari keberadaan lahan gambut ini dapat membawa dampak negatif jika pengelolaan lahan gambut tersebut tidak dikelola dengan baik. Lahan gambut umumnya mudah terbakar ketika terjadi kekeringan. Lahan gambut yang terbakar ini akan membawa dampak negatif berupa pelepasan gas rumah kaca, yaitu berupa karbon ke atmosfer dalam jumlah yang besar. Pelepasan karbon dalam jumlah besar ini sangat bahaya dampaknya bagi kesehatan bumi dimana makhluk hidup tinggal. Kandungan gas rumah kaca yang besar yang dilepaskan di atmosfer dapat menyebabkan terjadinya pemanasan global, seperti kenaikan suhu di permukaan bumi, perubahan iklim, dan dampak buruk lainnya yang berdampak negatif pada bumi kita.

Selain dampak yang telah disebutkan tersebut, dampak lain dari kebakaran lahan gambut sendiri, yakni; dampak terhadap keanekaragaman hayati sebagai ancaman potensial terhadap pembangunan berkelanjutan karena dampaknya langsung pada ekosistem. Lahan yang sudah terbakar akan sulit untuk kembali seperti semula. Sehingga mudah erosi, dan tidak lagi kuat menahan banjir.

Lantas bagaimana cara menanggulangi kebakaran lahan gambut ini, adapaun 6 pendekatan yang dapat dilakukan.

1. Pendekatan Hidrologis-Vegetasi Dalam pendekatan ini perlu dilakukan pengelolaan lahan gambut berbasis Kesatuan Hidrolisis Gambut (KHG). Juga, perlu ada restorasi hidrologis gambut terdegradasi yaitu dengan cara pembasahan kembali gambut atau rewetting.

2. Pendekatan teknologi dengan cara pengolahan lahan gambut tanpa bakar (bio decomposer) dan pengembangan energi (berbasis biomassa).

3. Pendekatan regulasi dan penegakan hukum, agar pemanfaatan dan kandungan air dari lahan gambut tetap terjaga, sehingga lahan gambut itu sendiri tidak rusak meski diperdayagunakan oleh manusia.

4. Pendekatan ekonomi, dalam hal ini ada tiga dasar. Pendekatan ekonomi berbasis lahan (land-based), melalui paludikultur dan pertanian minim drainase. Yang kedua pendekatan ekonomi berbasis air (water-based) seperti akuakultur atau silver fishery dan lainnya. Lalu untuk yang ketiga pendekatan ekonomi berbasis jasa lingkungan (enviroment service-based) seperti ekowisata dan pemanfaatan karbon dan lainnya.

5. Pendekatan sosial guna meningkatkan edukasi dan sosialisasi, serta kesadaran betapa pentingnya menjaga alam alami lahan gambut tersebut.

6. Pendekatan institusi, akan ada berbagai pihak terkait yang berkewenangan atas kebijakan bahkan tindakan langsung di lapangan perlu saling berkoordinasi dengan tepat. 

Yuk jaga kelestarian hayati kita agar tetap asri namun tetap dapat dimanfaatkan.

 

Sumber:

https://balittanah.litbang.pertanian.go.id

 


HPSN 2021: Sampah Penyelamat Ekonomi Di Kala Pandemi

HPSN 2021: Sampah Penyelamat Ekonomi Di Kala Pandemi

 


Hari Peduli Sampah Nasional (HPSN) diperingati pada tanggal 21 Februari 2021 yang kali ini akan mengangkat tema Sampah Bahan Baku Ekonomi di Masa Pandemi. Tema HPSN 2021 adalah relevansi kondisinal pandemi Virus Corona (COVID-19) yang terjadi sejak tahun 2020 lalu dan masih berlangsung hingga saat ini. Adanya pandemi COVID-19, berdampak pada sektor ekonomi dunia, termasuk Indonesia yang mangalami beberapa pelemahan baik di bidang industri, distribusi, maupun jasa. Namun tidak hanya itu, seperti yang disampaikan oleh Rosa Vivien Ratnawati selaku Dirjen Pengelolaan Sampah Limbah dan B3 (PSLB3) Kementerian Lingkungan Hidup dan Kehutanan (KLHK), bahwa sektor pengelolaan sampah dan limbah menjadi salah satu sektor yang mengalami pertumbuhan positif di tengah keterpurukan ekonomi yang terjadi di Indonesia. Data menunjukkan sektor ini tumbuh sangat tinggi, yakni mencapai 6,04%.

Selain tergerak untuk mengembalikan ekonomi yang terpuruk, seharusnya ada inisiatif dari berbagai pihak untuk juga memedulikan sektor pengelolaan sampah dan limbah guna peningkatan ekonomi. Melalui momen HPSN 2021 seharusnya menjadi titik balik untuk memperkuat posisi sektor pengelolaan sampah sebagai perwujudan dari prinsip waste to resource yang merupakan salah satu prinsip pengelolaan sampah berkelanjutan, yaitu melalui pelaksanaan ekonomi sirkulat atau circular economy dan menjadikan sampah sebagai umber energi. Sebab dari sejarah yang ada, HPSN selama lima tahun kebelakang digunakan untuk meningkatkan kesadaran mayarakat dalam upaya pengurangan sampah yang memberikan hasil sangat positif. Oleh karena itu, sudah saatnya untuk HPSN bergeser ke upaya penanganan sampah yang memberikan kontribusi nyata dalam pertumbuhan ekonomi. Hal ini akan dilakukan melalui pengembangan sektor usaha dan pengangkutan sampah, industri peralatan dan mesin untuk pengolah sampah, industri daur ulang, komposting dan biogas, serta mengembangkan industri sampah menjadi energi alternatif.

Peringatan HPSN di 2021 ini akan diselenggarakan secara online mengingat situasi pandemi yang belum mereda. Fokus HPSN tahun ini adalah untuk memberikan kontribusi dalam pertumbuhan ekonomi di Indonesia. Selain itu, HPSN tahun ini memiliki tiga tujuan, yaitu untuk memperkuat komitmen dan peran aktif pemerintah daerah dalam melaksanakan pengelolaan sampah dengan cara menjadikan sampah sebagai bahan baku ekonomi. Selanjutnya, untuk memperkuat partisipasi publik dalam upaya menjadikan sampah sebagai bahan baku ekonomi melalui gerakan untuk memilah sampah. Yang terakhir adalah untuk memperkuat komitmen dan peran aktif produsen dan pelaku usaha lainnya dalam implementasi bisnis hijau atau green business, yakni dengan menjadikan sampah sebagai bahan baku ekonomi.

 

References:

"Ketahuilah, Ini Tiga Tujuan Peringatan Hari Peduli Sampah Nasional 2021", https://www.jpnn.com/news/ketahuilah-ini-tiga-tujuan-peringatan-hari-peduli-sampah nasional-2021?page=3. Diakses pada tanggal 11 Februari 2021, pukul 14.48 WIB.

“HPSN 2021, KLHK Perkuat Partisipasi Publik Kelolah Sampah” , https://www.republika.co.id/berita/qnv16g354/hpsn-2021-klhk-perkuat-partisipasi-publik-kelolah-sampah. Diakses pada tanggal 11 Februari 2021, pukul 14.55 WIB.

 _

Ditulis oleh: Aridha Suryani (Volunteer Earth Hour Malang 2021)


ad2

Chord dan Lirik

Explore Indonesia